Kamis, 19 Desember 2013

LAPORAN PENDAHULUAN HIV / AIDS PADA IBU HAMIL





       I.            DEFINISI
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dialihkatakan sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.
Acquired : didapat, bukan penyakit keturunan
Immune : sistem kekebalan tubuh
Deficiency : kekurangan
Syndrome : kumpulan gejala-gejala penyakit.
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare).
Sedangkan di dalam kamus kedokteran Dorlan (2002), menyebutkan bahwa AIDS adalah suatu penyakit retrovirus epidemik menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut.
Menurut Center for Disease Control and Prevention, AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi.

    II.            ETIOLOGI
Penularan virus HIV/AIDS terjadi karena beberapa hal, di antaranya ;
1. Penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual). (WHO, 2003)
2. Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan
3. Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
4. Individu yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu berhubungan kelamin dengan orang yang terinfeksi HIV.
5. Orang yang melakukuan transfusi darah dengan orang yang terinfeksi HIV, berarti setiap orang yang terpajan darah yang tercemar melalui transfusi atau jarum suntik yang terkontaminasi.

 III.            MANIFESTASI KINIS
Manifestasi klinis yang tampak dibagi menjadi 2, yaitu:
  1. Manifestasi Klinis Mayor
    1. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan
    2. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus
    3. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 tiga bulan
    4. TBC
    5. Manifestasi Klinis Minor
      1. Batuk kronis selama lebih dari satu bulan
      2. Infeksi pada mulut dan jamur disebabkan karena jamur Candida Albicans
      3. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
      4. Munculnya Herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh













 IV.            PATOFISIOLOGI

HIV AIDS Pada Ibu hamil
Etiologi : Infeksi Virus
Faktor Resiko :
  1. Seks Bebas
  2. Berganti-ganti pasangan
  3. Pengguna Narkoba suntik
  4. Penerima transfuse darah
  5. Tenaga medis
Ibu hamil-bayi
Penularan melalui :
  1. Antepartum/ in utero
  2. Inpartum
  3. Postpartum/ melalui ASI
Ibu
Anak
MK: Ansietas dan isolasi sosial
Efek obat
Sel epitel usus
Sistem imun
Sel hepar dan lien
Infeksi pneomocytis carinii
Mual/muntah
Diare kronis
Imunitas ↓
MK : Nutrisi Kurang dari kebutuhan tubuh
MK : Nyeri
MK : Defisit volume cairan dan kerusakan integritas kulit
Gampang Sakit
Pada bayi gg. Tumbuh kembang
hepatosplenomegali
MK : Nyeri
Pneumonia
Sersak
MK : Pola Nafas tidak efektif
MK : Resti infeksi oportunistik
































    V.            Cara Penularan HIV/AIDS dari Ibu ke Anak
Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar masih berusia subur, sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang terjadi pada saat kehamilan (Richard, et al., 1997). Selain itu juga karena terinfeksi dari suami atau pasangan yang sudah terinfeksi HIV/AIDS karena sering berganti-ganti pasangan dan gaya hidup. Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode:
  1. Periode kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal ini disebabkan karena terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus oleh virus itu sendiri. Oksigen, makanan, antibodi dan obat-obatan memang dapat menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV. Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
  1. Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada plasenta selama kehamilan.
  2. Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus pada saat itu.
  3. Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun.
  4. Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi untuk terjadinya penularan dari ibu ke anak.
  5. Periode persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika dibandingkan periode kehamilan. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses persalinan, maka semakin besar pula resiko penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya persalinan dapat dipersingkat dengan section caesaria.
Faktor yang mempengaruhi tingginya risiko penularan dari ibu ke anak selama proses persalinan adalah:Lama robeknya membran.
  1. Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya)
  2. Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu misalnya, episiotomi.
  3. Anak pertama dalam kelahiran kembar


  1. Periode Post Partum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI. Berdasarkan data penelitian De Cock, dkk (2000), diketahui bahwa ibu yang menyusui bayinya mempunyai resiko menularkan HIV sebesar 10- 15% dibandingkan ibu yang tidak menyusui bayinya. Risiko penularan melalui ASI tergantung dari:
  1. Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan kurang berisiko dibanding dengan pemberian campuran.
  2. Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu dan infeksi payudara lainnya.
  3. Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi.
  4. Status gizi ibu yang buruk

 VI.            FAKTOR RESIKO
Kelompok orang yang berisiko tinggi terinfeksi Virus HIV sebagai berikut :
  1. Janin dengan ibu yang terjangkit HIV
  2. Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
  3. Pekerja seks komersial
  4. Pasangan yang heteroseks dengan adanya penyakit kelamin

  1. VII.            PEMERIKSAAN
  2. VCT (Voluntary Counseling Testing)
VCT adalah suatu pembinaan dua arah atau dialog yang berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya untuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi, serta dukungan lainnya kepada ODHA, keluarga , dan lingkungannya. Tujuan VCT :
  1. Upaya pencegahan HIV/AIDS.
  2. Upaya untuk mengurangi kegelisahan, meningkatkan persepsi/pengetahuan mereka tentang faktor-faktor resiko penyebab seseorang terinfeksi HIV.
  3. Upaya pengembangan perubahan perilaku, sehingga secara dini mengarahkan mereka menuju ke program pelayanan dan dukungan termasuk akses terapi antiretroviral, serta membantu mengurangi stigma dalam masyarakat.
  4. Pemerikasaan Laboratorium
    1. Tes serologis: tes antibodi serum terdiri dari skrining HIV dan ELISA;
Tes blot western untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap beberapa protein spesifik HIV.
  1. Pemeriksaan histologis, sitologis urin ,darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi.
  2. Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG.
  3. Tes lainnya: sinar X dada menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCV tahap lanjut atau adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi awal pneumonia interstisial; Scan gallium; biopsy; branskokopi.
  4. Tes Antibodi
    1. Tes ELISA, untuk menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi HIV.
    2. Western blot asay/ Indirect Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali antibodi HIV dan memastikan seropositifitas HIV.
    3. Indirect immunoflouresence, sebagai pengganti pemerikasaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
    4. Radio immuno precipitation assay, mendeteksi protein pada antibodi.
    5. Pendeteksian HIV
Dilakukan dengan pemeriksaan P24 antigen capture assay dengan kadar yang sangat rendah. Bisa juga dengan pemerikasaan kultur HIV atau kultur plasma kuantitatif untuk mengevaluasi efek anti virus, dan pemeriksaan viremia plasma untuk mengukur beban virus (viral burden).

  1. VIII.            PENATALAKSANAAN
Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah pencegahan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi, apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) maka terapinya yaitu :
  1. Pengendalian infeksi oportunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan dan pemulihan infeksi opurtuniti, nosokomial atau sepsis, tindakan ini harus di pertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan yang kritis.
  1. Terapi AZT (Azidotimidin)
Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV denngan menghambat enzim pembalik transcriptase.
  1. Terapi antiviral baru
Untuk meningkatkan aktivitas system immune dengan menghambat replikasi virus atau memutuskan rantai reproduksi virus padan proses nya.obat- obat ini adalah : didanosina, ribavirin, diedoxycytidine, recombinant CD4 dapat larut.
  1. Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah interveron.
  2. Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat replikasi HIV.
  3. Rehabilitasi
    Bertujuan untuk memberi dukungan mantal-psikologis, membantu mengubah perilaku risiko tinggi menjadi perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko, mengingatkan cara hidup sehat dan mempertahankan kondisi tubuh sehat.
  4. Pendidikan
    Untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang sehat, hindari stres, gizi yang kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi imunne. Edukasi ini juga bertujuan untuk mendidik keluarga pasien bagaimana menghadapi kenyataan ketika anak mengidap AIDS dan kemungkinan isolasi dari masyarakat.

 IX.            PENCEGAHAN
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan bisa dilakukan mulai saat masa kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Cara tersebut yaitu:
  1. Penggunaan obat Antiretroviral selama kehamilan, saat persalinan dan untuk bayi yang baru dilahirkan.
Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load menjadi lebih rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Resiko penularan akan sangat rendah (1-2%) apabila terapi ARV ini dipakai. Namun jika ibu tidak memakai ARV sebelum dia mulai sakit melahirkan, ada dua cara yang dapat mengurangi separuh penularan ini. AZT dan 3TC dipakai selama waktu persalinan, dan untuk ibu dan bayi selama satu minggu setelah lahir. Satu tablet nevirapine pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 2–3 hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan menjadi hanya 2 persen. Namun, resistansi terhadap nevirapine dapat muncul pada hingga 20 persen perempuan yang memakai satu tablet waktu hamil. Hal ini mengurangi keberhasilan ART yang dipakai kemudian oleh ibu. Resistansi ini juga dapat disebarkan pada bayi waktu menyusui. Walaupun begitu, terapi jangka pendek ini lebih terjangkau di negara berkembang.
  1. Penanganan obstetrik selama persalinan
Persalinan sebaiknya dipilih dengan menggunakan metode Sectio caesaria karena metode ini terbukti mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Apabila pembedahan ini disertai dengan penggunaan terapi antiretroviral, maka resiko dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian, pembedahan ini juga mempunyai resiko karena kondisi imunitas ibu yang rendah yang bisa memperlambat penyembuhan luka. Oleh karena itu, persalinan per vagina atau sectio caesaria harus dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain.
  1. Penatalaksanaan selama menyusui
Pemberian susu formula sebagai pengganti ASI sangat dianjurkan untuk bayi dengan ibu yang positif HIV. Karena sesuai dengan hasil penelitian, didapatkan bahwa ± 14 % bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi.













ASUHAN KEPERAWATAN
HIV / AIDS PADA IBU HAMIL

  1. A.    Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dalam melakukan asuhan keperawatan secara keseluruhan. Pengkajian terdiri dari tiga tahapan yaitu ; pengumpulan data, pengelompakan data atau analisa data dan perumusan diagnose keperawatan (Depkes RI, 1991 ).
  1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun imformasi (data-data) dari klien. Data yang dapat dikumpulkan pada klien yaitu data sebelum dan selama kehamilan
  1. Identitas pasien
  2. Riwayat Kesehatan
-          Masa lalu
-          Sekarang
-          Menstruasi
-          Reproduksi
  1. Keluhan Utama
  2. Data Psikologi
Kondisi ibu hamil dengan HIV /AIDS takut akan penularan pada bayi yang dikandungnya. Bagi keluarga pasien cenderung untuk menjauh sehingga akan menambah tekanan psikologis pasien.
  1. Pemeriksaan fisik
    1. Breating
Kaji pernafasan bumil, apabila ibu telah terinfeksi sistem pernafasan maka sepanjang jalr pernafasan akan mengalami gangguan. Misal RR meningkat, kebersihan jalan nafas.
  1. Blood
Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan virus HIV/AIDS. Penurunan sel T limfosit; jumlah sel T4 helper; jumlah sel T8 dengan perbandingan 2:1 dengan sel T4; peningkatan nilai kuantitatif P24 (protein pembungkus HIV); peningkatan kadar IgG, Ig M dan Ig A; reaksi rantai polymerase untuk mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler; serta tes PHS (pembungkus hepatitis B dan antibodi,sifilis, CMV mungkin positif).
  1. Brain
Tingkat kesadaran bumil dengan HIV/AIDS terkadang mengalami penurunan karena proses penyakit. Hal itu dapat disebabkan oleh gangguan imunitas pada bumil.
  1. Bowel
Keadaan sisitem pencernaan pada bumil akan mengalami gangguan. Kebanyakan gangguan tersebut adalah diare yang lama. Hal itu disebabkan oleh penurunan sistem imun yang berada di tubuh sehingga bakteri yang ada di saluran pencernaan akan mengalami gangguan. Hal itu dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan.
  1. Bladder
Kaji tingkat urin klien apakah ada kondisi patologis seperti perubahan warna urin, jumlah dan bau. Hal itu dapan mengidentifikasikan bahwa ada gangguan pada sistem perkemian. Biasanya saat imunitas menurun resiko infeksi pada uretra klien.
  1. Bone
Kaji respon klien, apakah mengalami kesulitan bergerak,reflek pergerakan. pada ibu hamil kebutuhan akan kalsium meningkat,periksa apabila ada resiko osteoporosis. Hal itu dapat memburuk dengan bumil HIV/AIDS.
Analisa Data
Data
Etiologi
Problem
DS: biasanya pasien Buang air besar selama berhari-hari, lemas, pusing
DO: wajah pucat, matanya cowong, kulit dan mukosa kering, tekanan turgor menurun

Diare (infeksi virus HIV yang menyerang usus )

Kekurangan volume cairan

DS : biasanya pasien mengeluh lemas
DO: pasien terlihat kurus

Mual. Muntah dan diare yang berlebihan

Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan

DS: biasanya pasien mengeluh nyeri pada bagian perut
DO :
P: nyeri meningkat ketika beraktifitas
Q: nyeri
R: nyeri di daerah abdomen kuadran kiri bawah
S: skala nyeri 8
T: nyeri hilang timbul
Infeksi virus HIV
pada usus

Nyeri

S :  nyeri pada daerah perianal
O : kulit perianal terlihat merah dan sedikit lecet
Diare yang
berlebihan

Kerusakan integritas
kulit

S :  biasnya pasien mengeluh cemas
O : pasien menangis

Takut bayi akan
tertular virus HIV

Ansietas

S : merasa cemas
dan takut

Persepsi ridak
dapat diterima
masyarakat
Resiko tinggi isolasi
social



  1. B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.   Kekurangan volume cairan b.d diare berat
2.   Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d pengeluaran yang berlebihan ( muntah dan diare berat )
3.   Nyeri b.d infeksi
4.   Kerusakan integritas kulit b.d diare berat
5.   Ansietas b.d transmisi dan penularan interpersonal ( pada bayi )
6.   Resiko tinggi isolasi sosial b.d persepsi tentang tidak akan diterima dalam masyarakat


  1. C.    INTERVENSI
1.   Kekurangan volume cairan b.d diare berat
Tujuan :
- Mempertahankan hidrasi

Intervensi
Rasional
  1. Pantau tanda-tanda vital, termasuk CVP bila terpasang. Catat hipertensi, termasuk perubahan postural.
  2. Catat peningkatan suhu  andurasi demam. Berikan kompres hangat sesuai indikasi. Pertahankan pakaian tetap kering. Pertahankan kenyamanan suhu lingkungan

  1. Kaji turgor kulit, membran mukosa, dan rasa haus
  2. Ukur haluan urine dan berat jenis urine. Ukur/kaji jumlah kehilangan diare. Catat kehilangan kasat mata




  1. Timbang berat badan sesuai indikasi







  1. Pantau pemeriksaan oral dan memasukan cairan sedikitnya 2500ml/hari

  1. Buat cairan mudah diberikan pada pasien; gunakan cairan yang mudah ditoleransi oleh pasien dan yang mengandung elektrolit yang dibutuhkan, mis., Gatorade, air daging
  2. Hilangkan yang potensial menyebabkan diare, yakni yang pedas/makanan berkadar lemak tinggi, kacang, kubis, susu. Mengatur kecepatan/konsentrasi yang diberikan perselang, jika diperlukan.


  1. Indikator dari volume cairan


  1. Meningkatkan kebutuhan metabolism dan diaphoresis yang berlebihan yang dihubungkan dengan demam dalam meningkatkan kehilangan cairan
  2. Indikator tidak langsung dari status cairan
  3. Peningkatan berat jenis urin/penurunan haluaran urin menunjukkan perubahan perfusi ginjal/volume sirkulasi. Catatan : pemantauan keseimbangan sulit karena kehilangan melalui gastrointestinal/tak kasat mata
  4. Meskipun kehilangan berat badan dapat menunjukkanpenggunaan otot, fluktuasi tibatiba menunjukkan status hidrasi. Kehilangan cairan berkenaan dengan diare dapat dengan cepat menyebabkan krisis dan mengancam hidup.
  5. Mempertahankan keseimbangan cairan, mengurangi rasa haus, dan melembabkan membrane mukosa
  6. Meningkatkan pemasukan. Cairan tertentu mungkin    ter rlalu menimbulkan nyeri untuk dikonsumsi (misal, jeruk asam) karena lesi pada mulut.
  7.  Mungkin dapat  mengurangi diare.



2.   Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d pengeluaran yang berlebihan ( muntah dan diare berat )
Tujuan:
- mempertahankan massa otot yang adekuat
- mempertahankan berat antara 0,9-1,35 kg dari berat sebelum sakit
Intervensi
Rasional
1. Tentukan berat badan umum sebelum pasien didiagnosa HIV
l



2. Buat ukuran antropometri terbaru.


3. Diskusikan/catat efek-efek samping obat-obatan terhadap nutrisi.





4. Sediakan informasi ,mengenai nutrisi dengan kandungan kalori, vitamin, protein, dan mineral tinggi. Bantu pasien merencanakan cara untuk mempertahankan/menentukan masukan.
5. Tekankan pentingnya mempertahankan keseimbangan/pemasukan nutrisi adekuat.

1. Penurunan berat badan dini bukan ketentuan pasti grafik berat badan dan tinggi badan normal. Karenanya penentuan berat badan terakhir dalam hubungannya berat badan dan pra-diagnosa lebih bermanfaat.
2. Membantu memantau penurunan dan menentukan kebutuhan nutrisi sesuai dengan perubahan penyakit.
3. Identifikasi dari faktor-faktor ini dapat membantu merencanakan kebutuhan individu. Pasien dengan infeksi HIV menunjukkan deficit mineral renik zinc, magnesium, selenium. Penyalahgunaan alcohol dan obat-obatan dapat mengganggu asupan adekuat.
4. Umunya obat-obatan yang digunakan menyebabkan anoreksia dan mual/muntah; beberapa mempengaruhi produksi SDM sumsum tulang.
5. Memiliki informasi ini dapat membantu pasien memahami pentingnya diet seimbang. Sebagaian pasien mungkin akan mencoba diet makrobiotik maupun diet jenis lain.

3.   Nyeri b.d infeksi
Tujuan:
- Pasien bisa mengontrol nyeri/rasa sakit
Intervensi
Rasional
1. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 1-10), frekuensi, dan waktu. Menandai gejala nonverbal misal gelisah, takikardia, meringitas.

2. Dorong pengungkapan perasaan.


3. Berikan aktivitas hiburan, mis., membaca, berkunjung, dan menonton televisi.
4. Lakukan tindakan paliatif, mis., pengubahan posisi, masase, rentang gerak pada sendi yang sakit.
5. Berikan kompres hangat/lembab pada sisi injeksi pentamidin/IV selama 20 menit setelah pemberian.
6. Instruksikan pasien/dorong untuk menggunakan visualisasi/bimbingan imajinasi, relaksasi progresif, teknik napas dalam.
7. Berikan perawatan oral.

1. Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga. Tanda-tanda perkembangan/ resolusi komplikasi. Catatan: sakit yang kronis tidak menimbulkan perubahan autonomic.
2. Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut, sehingga  mengurangi persepsi akan intensitas rasasakit.
3. Memfokuskan kembali perhatian; mungkin dapat meningkatkan kemampuan untuk menanggulangi.
4. Meningkatkan relaksasi/menurunkan tegangan otot.
5. Injeksi ini diketahui sebagai penyebab rasa sakit dan abses steril.
6. Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat. Dapat menurunkan kebutuhan narkotik analgesik (depresan SSP) dimana telah terjadi proses degenaratif neuro/motor. Mungkin tidak berhasil jika muncul demensia, meskipun minor.
7. Ulserasi/lesi oral mungkin menyebabkan  ketidak nyamanan yang sangat.


4.   Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan diare berat
Tujuan:
- Pasien menunjukkan perbaikan integritas kulit

Intervensi
Rasional
1. Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi, dan sensasi. lambarkan lesi dan amati perubahan.

1. Menentukan garis dasar diamana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat.

2. Secara teratur ubah posisi, ganti seprei sesuai kebutuhan. Dorongn pemindahan berat badan secara periodik. Lindungi penonjolan tulang dengan bantal, bantalan tumit/siku, kulit domba.
2. Mengurangi stress pada titik tekannan, meningkatkan aliran darah ke jaringan dan meningkatkan proses kesembuhan.

3. Pertahankan seprei bersih, kering, dan tidak berkerut

3. Fiksasi kulit disebabkan oleh kain yang berkerut dan basah yang menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi.
4. Gunting kuku secara teratur.

4. Kuku yang panjang/kasar meningkatkan risiko kerusakan dermal.


  1. D.    EVALUASI
    1. Pasien menunjukkan tingkah laku/teknik untuk mencegah kerusakan kulit/meningkatkan kesembuhan.
    2. Menunjukkan kemajuan pada luka/penyembuhan lesi.
    3. Keluhan hilangnya/terkontrolnya rasa sakit
    4. Menunjukkan posisi/ekspresi wajah rileks
    5. Dapat tidur/beristirahat adekuat
    6. Membran mukosa pasien lembab, turgor kulit baik, tanda-tanda vital stabil, haluaran urine adekuat
    7. menunjukkan nilai laboratorium dalam batas normal
    8. melaporkan perbaikan tingkat energi












DAFTAR PUSTAKA



Doenges, Marilynn E.2000.Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta. EGC.

Nursalam dan dwi,Ninuk. 2008. Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta. Salemba medika.

Yasmine Flores, Swabina.2007. Anak dan HIV/AIDS. Jakarta.

ibu-hamil-dengan-aids.html

Penyakit Imunologi HIV AIDS _ Ginekologi _ LUSA.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar