Kamis, 19 Desember 2013

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN ABORTUS

ASKEP ABORTUS

LAPORAN PENDAHULUAN
1. Konsep Dasar Abortus
1.1 Pengertian
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
1.2 Klasifikasi
1.2.1 Abortus spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata oleh faktor alamiah.
Klinis abortus spontan dapat dibagi atas :
1) Abortus imminens
Terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.
2) Abortus insipiens
Perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda di mana hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit.
3) Abortus inkompletus
Perdarahan pada kehamilan muda di mana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis.
4) Abortus kompletus
Perdarahan pada kehamilan muda di mana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri.
5) Abortus Habitualis ( keguguran berulang ) : adalah dimana penderita mengalami keguguran 3 kali berturut-turut atau lebih.

6) Abortus infeksiosa
Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin ke dalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan septicemia, sepsis atau peritonitis.
7) Missed abortion
Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Biasanya diagnosis tidak dapat ditentukan hanya dalam satu kali pemeriksaan, melainkan memerlukan waktu pengamatan dan pemeriksaan ulangan.
1.2.2 Abortus Provakatus ( induced abortion )
Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini terbagi lagi menjadi :
1) Abortus medisinalis (Abortus therapeutica)
Adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan apabila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu ( berdasarkan indikasi medis ). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
2) Abortus kriminalis
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.
1.3 Etiologi
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :
1.3.1 Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah :
1) Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
2) Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.
3) Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau, dan alkohol.
1.3.2 Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun.
1.3.3 Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan, dan toksoplasmosis.
1.3.4 Kelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester kedua), retroversi uteri, mioma uteri, dan kelainan bawaan uterus.
1.3.5 Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi kelenjar gondok.
1.3.6 Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu.
1.3.7 Gizi ibu yang kurang baik.
1.3.8 Faktor psikologis ibu.

1.4 Manifestasi klinis
1) Terlambat haid atau aminore kurang dari 20 minggu.
2) Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
3) Perdarahan per vaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
4) Rasa mulas atau kram perut di daerah simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus.

1.5 Pemeriksaan ginekologi :
1) Inspeksi vulva : Perdarahan per vaginam, ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
2) Inspekulo : Perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
3) Vagina touche : Porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri


.
1.6 Pemeriksaan Penunjang
1) Tes kehamilan : pemeriksaan HCG, positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus.
2) Pemeriksaan doppler atau USG : untuk menentukan apakah janin masih hidup.
3) Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.
4) Histerosalfingografi, untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus submukosa dan anomali kongenital.
5) BMR dan kadar udium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak gangguan glandula thyroidea
6) Psiko analisa
7) Pemeriksaan kadar hemoglobin cenderung menurun akibat perdarahan.

1.7 Penatalaksanaan
1.7.1 Abortus iminens
1) Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang melanik berkurang.
2) Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas dan tiap 4 jam bila pasien panas.
3) Tes kehamilan dapat dilakukan. Bila hasil negatif, mungkin janin sudah mati. Pemeriksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup.
4) Berikan obat penenang, biasanya fenobarbital 3x30 mg. berikan preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600-1000 mg.
5) Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.
6) Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptic untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat.
1.7.2 Abortus insipiens
1) Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin.
2) Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul dengan kerokan memakai kuret tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuscular.
3) Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infuse oksitosin 10 IU dalam dekstrose 5% 500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
4) Bila janin keluar, tetapi plasenta masih tertinggal di dalam , lakukan pengeluaran plasenta dengan cara manual.
1.7.3 Abortus inkomplit
1) Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infuse cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah.
2) Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikan ergometrin 0,2 mg intramuscular.
3) Bila janin sudah keluar tetapi plasenta masih tertinggal, maka lakukan pengeluaran plasenta secara manual.
4) Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
1.7.4 Abortus komplit
1) Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3x1 tablet selama 3 sampai 5 hari.
2) Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfuse darah.
3) Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
4) Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
1.7.5 Missed abortion
1) Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam.
2) Bila kadar fibrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar sesaat sebelum atau ketika mengeluarkan konsepsi.
3) Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, lakukan pembukaan serviks dengan gagang laminaria selama 12 jam laulu dilatasi serviks dengan dilatator Hegar. Kemudian hasil konsepsi diambil engan cunam ovum lalu dengan kuret tajam.
4) Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan diestilstilbestrol 3x5 mg lalu infuse oksitosin 10 IU dalam dekstrose 5% sebanyak 500 ml mulai 20 tetes per menit dan naikkan dosis sampai ada kontraksi uterus. Oksitosin dapat diberikan sampai 100 IU dalam 8 jam. Bila tidak berhasil, ulang infus oksitosin setelah pasien istirahat 1 hari.
5) Bila tinggi fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil konsepsi dengan menyuntik larutan garam 20% dalam kavum uteri melalui dinding
1.7.6 Abortus septik
Abortus septic harus dirujuk ke rumah sakit.
Penyalahgunaan infeksi :
1) Obat pilihan pertama : penisilin prokain 800.000 IU intramuscular tiap 12 jam ditambah kloramfenikol 1 g peroral selanjutnya 500 gmg peroral tiap 6 jam.
2) Obat pilihan kedua : ampisilin 1 g peroral selanjutnya 500 g tiap 4 jam ditambah metronidazol 500 mg tiap 6 jam.
3) Obat pilihan lainnya: ampisilin dan kloramfenikol, penisilin dan metronidazol, ampsilin dan gentamicin, penisilin dan gentamisin.
4) Tingkatkan asupan cairan.
5) Bila perdarahan banyak, lakukan transfusi darah.
6) Dalam 24 jam sampai 48 jam setelah perlindungan antibiotic atau lebih cepat lagi bila terjadi perdarahan, sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus.
7) Pada pasien menolak dirujuk, beri pengobatan sama dengan yang diberikan pada pasien yang hendak dirujuk, selama 10 hari.
1.7.7 Abortus Habitualis
Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya . merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada serviks inkompeten terapinya adalah operatif : SHIRODKAR atau MC DONALD (cervical cerclage ).




1.8 Komplikasi
1.8.1 Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
1.8.2 Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Terjadi robekan pada rahim, misalnya abortus provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain.
1.8.3 Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat.
1.8.4 Infeksi
Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma, Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas padsa desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium. Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap infeksi paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus dan Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena dapat membentuk gas.
1.8.5 Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah.
2. Asuhan keperawatan
2.1 Pengkajian
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
2.1.1 Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
2.1.2 Keluhan utama : adanya perdarahan pervaginam berulang
2.1.3 Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
2.1.4 Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
2.1.5 Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
2.1.6 Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
2.1.7 Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
2.1.8 Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
2.1.9 Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
2.1.10 Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.

Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
Pemeriksaan fisik, meliputi :
Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya
Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal
Pemeriksaan tinggi fundus uteri:
1) Tinggi dan besarnya tetap dan sesuai dengan umur kehamilan.
2) Tinggi dan besamya sudah rnengecil.
3) Fundus uteri tidak teraba diatas simfisis.







Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak



Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.
2.2 Diagnosa Keperawatan
2.2.1 Kekurangan volume cairan volume cairan behubungan dengan kehilangan vaskuler dalam jumlah berlebih
2.2.2 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan
2.2.3 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kondisi vulva lembab.
2.2.4 Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan hipovolemia
2.2.5 Intoleansi aktivitas berhubungan dengan pendarahan.
2.2.6 Cemas berhubungan dengan ancaman kematian diri sendiri dan janin.

2.3 Intervensi Keperawatan
2.3.1 Kekurangan volume cairan berhubungan denga kehilangan vaskuler berlebih yang ditandai dengan pasien mengungkapkan merasa lemah, haus,suhu tubuh meningkat > 37.50C, turgor kulit menurun, mata cowong, pendarahan >500cc, Nadi lambat < 60 X/mnt, TD < 120/80 mmHg, RR >20, CRT > 2 dtk, oliguri dan mukosa bibir kering. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1 X 24 jam volume cairan terpenuhi dengan criteria hasil :
1. pasien mengungkapkan tidak lemah, dan tidak merasa haus lagi.
2. TTV normal (suhu 36,5 – 37,5 , ND 60 – 100 X/ mnt, TD 120/80 mmHg , RR 12 – 20 X/ mnt)
3. CRT < 2dtk 4. Haluaran urine 1cc/kg BB / jam 5. Mukosa bibir lembab 6. Turgor kulit normal 7. Mata tidak cowong Intevensi : 1. Jelaskan 2. Lakukan tirah baring dan menghindari ibu untuk valsava manufer. R/ Pendarahan dapat berhenti dengan reduksi aktivitas. Peningkatan tekanan abdomen dapat merangsang pendarahan. 3. Posisikan ibu dengan tepat (semi fowler). R/ menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak, peninggian panggul menghindari kompresi vena. 4. Evaluasi , laporkan serta catat jumlah dan sifat kehilangan darah, lakukan perhitungan pembalik, kemudian timbang pembalut. R/ perkirakan kehilangan darah membantu membedakan diagnosis. 5. Catat tanda vital, pengisian kapiler pada dasar kuku, warna membrane mukosa atau kulit dan suhu. R/ membantu menentukan beratnya kehilangan darah. 6. Kolaborasi a. Dapatkan pemeriksaan darah cepat: HDL jenis dan pencocokan silang, titer Rh , kadar fibrinogen , hitung trombosit, APTT dan kadar LCC. R/ menentukan jumlah darah yang hilang dan dapat memberikan informasi mengenai penyebab yang harus dipertahankan untuk mendukung transfor oksigen dan nutrient. b. Pasang kateter R/ apabila terjadi kekurangan haluaran 30 ml/jam menadakan penurunan perfusi ginjal. c. Berikan larutan intravena , darah lengkap , ekspander plasma meningkatkan volume darah sirkulasi dan gejala – gejala syok. 2.3.2 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma jaringan ditandai dengan pasien mengeluh nyeri, nadi cepat > 100 X/mnt, TD > 120/80 mmHg, RR > 100 X/mnt,skala nyeri >5.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 X 24 jam nyeri berkurang dangen kriteria hasil :
1. Pasien tidak lagi mengeluh nyeri
2. TTV normal : ND 60 – 100 x / mnt, RR 12 – 20 x/mnt, TD 120/80 mmHg.
3. Skala nyeri < 3. Intervensi : 1. Jelaskan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya. R/ Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri 2. Tentukan riwayat nyeri, mis. Lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan intesitas (skala 0-10) dan tindakan penghilangan yang digunakan. R/ untuk mengetahui lokasi nyeri, frekunsi dan inteinsitasnya. 3. Berikan tindakan fiksasi daerah yang nyeri (dengan memberikan gurita). R/ mengurangi rasa nyeri. 4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesic. R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 5. Pantau TTV R/ untyk mengetahui nyeri berkurang / tidak. 2.3.3 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan Setelah dilakukan tindakan 3x 24 jam pasien tidak mengalami infeksi ditandai dengan KU pasien normal dengan kriteria hasil : 1. Tidak merasa nyeri pada daerah vulva. 2. Tidak merasa gatal 3. TTV normal (nadi 60-100x.mnt, TD 120/80mmHg, suhu 36,5 – 37,50C, RR 12 – 20 X/ mnt) Intervensi : 1. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar 2. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi. 3. Lakukan perawatan vulva. Rasional : inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi. 4. Tingkatkan prosedur mencuci tangan yang baik Tekankan higienen personal. Rasional : membantu mencegah penularan bakteri untuk mencegah infeksi. 5.Observasi semua system, mis. Kulit, pernafasan, genitourinaria, terhadap tanda/gejala infeksi secara kontinyu. Rasional : Pengenalan dini dan intervensi segera dapat mencegah progresi pada situasi/sepsis yang lebih serius. 6.Observasi kondis keluar ; jumlah, warna, dan bau. Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi. 7. Pantau suhu. Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi. 2.3.4 Perubahan perfusi jaringan yang berhubungan dengan hipovolemia ditandai dengan pasien mengeluh lemas, sering pusing CRT>2detik, terjadi sianosis, nadi< 60 X/menit, TD<120/80mmHg, akral dingin. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24jam pasien menunjukan perbaikan perfusi jaringan dengan kriteria hasil:
1. Pasien tidak lagi mengeluh lemah, tidak pusing,
2. CRT<2 detik
3. Tidak terjadi sianosis
4. TTV normal (nadi 60-100x.mnt, TD 120/80mmHg)
Intervensi :
1.Anjurkan tirah baring .
Rasional : meningkatkan ketersediaan oksigen untuk ibu.
2.Perhatikan status fisiologi ibu, status sirkulasi, dan volume darah
Rasional : untuk mengetahui status sirkulasi ibu dalam keadaan normal untuk mencegah terjadinya hipovolumik.
Kolaborasi :
3. Berikan oksigen pada ibu sesuai indikasi
Rasional : untuk mempertahankan perfusi jaringan.
4. Ganti kehilangan darah atau cairan itu.
Rasional : mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat untuk transport oksigen.
5. Dapatkan tes darah ibu untuk mengevaluasi serum ibu, darah Hb.
Rasional : untuk mengetahui seberapa banyak ibu kehilangan Hb.
2.3.5 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan perdarahan yang ditandai dengan pasien merasa lemah, tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 x 24 jam dengan kriteria hasil : pasien tidak lagi merasa lemah dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan perawat.
1. Anjurkan pasien mengikuti aktifitas dengan istirahat yang cukup.
Rasional : menghemat energi dan menghindari penggunaan tenaga terus menerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan usus.
2. Anjurkan istirahat yang adekuat dan penggunaan posisi miring kiri.
Rasional : meningkatkan aliran darah ke uterus dan dapat menurunkan kepekaan/aktivitas uterus.
3. Instruksikan klien untuk menhindari mengangkat berat, aktivitas/kerja rumah tangga berat, olahraga dan perjalanan dengan motorlebih dari 1-2 jam. (Catatan : klien dengan kondisi jantung dapat menghadapi pembatasan yang lebih berat).
Rasional : aktivitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak diindikasikan untuk wanita beresiko. Latihan / ketegangan abdomen aerobic dapat menurunkan aliran darah uterus dan meningkatkan kepekaan uterus.
4. Kolaborasi :
Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi / komplit sesuai kebutuhan.
Rasional : tingkat aktivitas mungkin perlu modifikasi tergantung pada gejala-gejala aktivitas uterus, perubahan serviks, atau perdarahan.

2.3.6 Cemas berhubungan dengan ancaman kematian pada diri sendiri dan janin
Kriteria hasil : ibu mendiskusikan kecemasan mengenai diri janin dan masa depan kehamilan, juga mengenai kecemasan yang sehat dan tidak sehat.
Intervensi
1. Jelaskan prosedur dan arti gejala
Rasional : Pengetahuan dapat membantu menurunkan rasa takut dan meningkatkan rasa kontrol terhadap situasi
2. Berikan informasi dalam bentuk verbal dan tertulis serta beri kesempatan klien untuk mengajukan pertanyaan
Rasional : Pengetahuan akan membantu ibu untuk mengatasi apa yang sedang terjadi dengan lebih efektif. Informasi sebaiknya tertulis, agar nantinya memungkinkan ibu untuk mengulang informasi akibat tingkat stres, ibu mungkin tidak dapat mengasimilasi informasi. Jawaban yang jujur dapat meningkatkan pemahaman dengan lebih baik serta menurunkan rasa takut.
3. Dengarkan masalah ibu dengan seksama
Rasional : Menigkatkan rasa kontrol terhadap situasi dan memberikan kesempatan pada ibu untuk mengembangkan solusi sendiri

4. Diskusikan tentang situasi dan pemahaman tentang situasi dengan ibu dan pasangan
Rasional : Memberikan informasi tentang reaksi individu terhadap apa yang terjadi.

5. Libatkan ibu dalam perencanaan dan berpatisipasi dalam perawatan sebanyak mungkin
Rasional : Menjadi mampu melakukan sesuatu untuk membantu mengontrol situasi sehingga dapat menurunkan rasa takut

6. Pantau respon verbal dan non verbal ibu dan pasangan.
Rasional : Menandai tingkat kecemasan yang sedang dialami ibu atau pasangan







DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E, Mary Frances Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi
Edisi 2. Jakarta : EGC
Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Buku Ajaran Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : YBP-SP
Mansjoer, Arif Dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta : Media Aesculapius
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika
Mochtar, Rustom. 1998. Sinopsis Obstetri jilid 1 edisi 2. Jakarta : EGC













Tidak ada komentar:

Posting Komentar