Minggu, 29 Desember 2013

KEPERAWATAN PERIOPERATIF

KEPERAWATAN PERIOPERATIF

Pengertian

Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien.
Pengertian
Kata perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencangkup 3 fase pengalaman pembedahan yaitu :
Praoperatif
Intraoperatif
Pascaoperatif

Fase Praoperatif
Batasan

Fase praoperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi.
Prioritas
Prioritas adalah inform consent, yaitu : pernyataan persetujuan pasien/keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan yang berguna untuk mencegah ketidaktahuan pasien/keluarga tentang prosedur yang akan dilaksanakan dan juga menjaga rumah sakit dan petugas kesehatan dari tuntutan hukum pasien/keluarga mengenai tindakan tersebut.
Inform consent
Inform consent dilakukan apabila sudah termasuk :
Informasi pembedahan yang akan dilakukan.
Memberitahukan nama dan kualifikasi orang atau petugas yang akan melakukan pembedahan.
Menjelaskan resiko termasuk kerusakan jaringan, kemungkinan komplikasi dan kemungkinan kematian.
Rasio kesuksesan pembedahan.
Alternatif lain yang dapat ditempuh.
Hak – hak pasien/keluarga terhadap consent yang akan dilakukan bila terjadi pembatalan kemudian.
Manajemen Keperawatan
Pengkajian
Pengkajian pasien bedah meliputi : mengevaluasi faktor – faktor fisik dan psikologis secara luas.
Pada pengkajian preoperatif termasuk mengkaji kebutuhan sebelum dan sesudah operasi juga diperlukan screening test untuk mengetahui kondisi dan kesiapan pasien secara fisik.
Manajemen Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
Ansietas b.d pengalaman bedah dan hasil pembedahan.
Defisit pengetahuan mengenai prosedur dan protokol praoperatif dan harapan pascaoperatif.
Manajemen Keperawatan
Perencanaan dan Implementasi
Tujuan utama meliputi :
Menghilangkan ansietas praoperatif
Meningkatkan pengetahuan tentang persiapan praoperatif dan harapan pascaoperatif.
Aktifitas keperawatan pada pasien praoperatif adalah pendidikan kesehatan (penkes), yang merupakan aktifitas vital pada fase ini.
Manajemen Keperawatan
… Perencanaan dan Implementasi

Ada 4 dimensi pada penkes ini yaitu :
Informasi termasuk hal yang akan terjadi pada pasien, kapan dan apa yang akan dialami pasien, bagaimana sensasi dan ketidaknyamanan yang diduga oleh pasien.
Psikososial suport untuk menghilangkan kecemasan.
Aturan yang dianut pasien, suport orang sekitarnya.
Latihan keterampilan termasuk pergerakan, nafas dalam, batuk efektif, menahan insisi dengan tangan atau bantal dan menggunakan spirometer.
Manajemen Keperawatan
Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
Ansietas berkurang
Berpartisipasi terhadap tindakan pembedahan



Fase Intraoperatif
Batasan

Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau pindah ke bagian atau departemen bedah dan berakhir pada saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.
Aktifitas
Pada fase ini lingkup aktifitas dapat meliputi :
Memasang infus (IV)
Memberikan medikasi intravena
Melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan
Menjaga keselamatan pasien
Type Anastesi
General Anastesi
Hilangnya seluruh sensasi dan kesadaran termasuk reflek batuk dan reflek muntah sehingga harus dijaga dari adanya aspirasi.
Biasanya diberikan secara intra vena atau inhalasi.
Regional Anastesi
Menghambat jalannya impuls saraf ke dan dari area atau bagian tubuh.
Pasien kehilangan sensasi pada sebagian tubuhnya tetapi tetap sadar.
Manajemen Keperawatan
Pengkajian
Identifikasi pasien.
Validasi data pasien yang dibutuhkan dengan kebijakan per bagian.
Telaah catatan pasien terhadap adanya :
Informed yang benar dengan tanda tangan pasien/keluarga.
Kelengkapan catatan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.
Hasil pemeriksaan diagnostik.
Kelengkapan riwayat dan pengkajian kesehatan.
Ceklis praoperatif.
Manajemen Keperawatan
… Pengkajian

Lengkapi pengkajian keperawatan praoperatif segera :
Status fisiologis : tingkat sehat – sakit, tingkat kesadaran.
Status Psikososial : ekspresi kekhawatiran, tingkat ansietas, masalah komunikasi verbal, mekanisme koping.
Status fisik : tempat operasi, kondisi kulit dan efektivitas persiapan, pencukuran, atau obat penghilang rambut, sendi tidak bergerak.
Manajemen Keperawatan
Perencanaan
Menginterpretasi variabel – variabel umum dan menggabungkan variabel tersebut kedalam rencana asuhan :
Usia, ukuran, jenis kelamin, prosedur bedah, tipe anestesia yang direncanakan, ahli anestesi dan anggota tim.
Ketersediaan peralatan spesifik yang dibutuhkan untuk prosedur dan ahli bedah.
Kebutuhan medikasi non rutin, komponen darah, instrumen.
Kesiapan ruangan untuk pasien, kelengkapan pengaturan fisik, kelengkapan instrumen, peralatan jahit dan pengadaan balutan.
Manajemen Keperawatan
… Perencanaan

Mengidentifikasi aspek –aspek lingkungan ruang operasi yang dapat secara negatif mempengaruhi pasien :
Fisik
Suhu dan kelembaban ruangan.
Bahaya peralatan listrik.
Potensial kontaminasi.
Hilir mudik yang tidak perlu
Psikososial
Kebisingan.
Kurang mengenal sebagai individu.
Rasa diabaikan tanpa pengantar di tempat tunggu.
Percakapan yang tidak perlu.
Manajemen Keperawatan
Intervensi
Berikan asuhan keperawatan berdasarkan pada prioritas kebutuhan pasien.
Bertindak sebagai advokat pasien.
Informasikan pasien/keluarga dengan pengalaman intraoperatif.
Koordinasi aktivitas bagi personil lain yang terlibat dalam perawatan pasien, seperti :
X–ray, laboratorium, ICU.
Manajemen Keperawatan
… Intervensi

Operasikan dan atasi semua masalah peralatan yang umumnya digunakan di ruang operasi dan tugaskan di layanan khusus.
Ikutserta dalam konferensi perawatan pasien.
Dokumentasikan semua observasi dan tindakan.
Komunikasikan baik verbal dan tulisan mengenai status kesehatan pasien saat pemindahan dari ruang operasi.
Manajemen Keperawatan
Evaluasi
Mengevaluasi kondisi pasien dengan cepat sebelum dikeluarkan dari ruang operasi : cara bernafas, warna kulit, selang invasif (IV), drain kateter berfungsi secara normal, balutan adekuat tidak terlalu ketat.
Ikut serta dalam mengidentifikasi praktek keperawatan pasien yang tidak aman dan menanganinya dengan baik.
Manajemen Keperawatan
… Evaluasi

Ikut serta dalam mengevaluasi keamanan lingkungan.
Melaporkan dan mendokumentasikan.
Menunjukkan pemahaman tentang prinsip aseptik dan praktek keperawatan teknis.
Mengenali tanggung gugat legal dari keperawatan preoperatif.



Fase Postoperatif
Batasan

Fase postoperatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau dirumah.
Fokus

Mengkaji efek dari agen anastesi
Memantau fungsi vital
Mencegah komplikasi
Aktifitas
Aktivitas keperawatan berfokus pada :
Tingkat penyembuhan pasien
dengan melakukan penyuluhan
Tindak lanjut serta rujukan
penting untuk penyembuhan yang berhasil
Rehabilitasi
diikuti oleh pemulangan
Manajemen Keperawatan
Pengkajian
Pengkajian segera setelah bedah saat kembali ke unit klinik :
Respirasi : kepatenan jalan napas, frekuensi, karakter, sifat dan bunyi napas.
Sirkulasi : TTV, kondisi kulit.
Neurologi : tingkat respon.
Drainase : adanya drainase.
Kenyamanan : tipe nyeri dan lokal, mual, muntah dan perubahan posisi yang dibutuhkan.
Psikologi : sifat dan dari pertanyaan pasien.
Keselamatan : kebutuhan akan pagar tempat tidur, selang infus tidak tersumbat.
Peralatan : diperiksa untuk fungsi yang baik.
Manajemen Keperawatan
Diagnosa
Bersihan jalan napas tidak efektif yang b.d efek depresan dan anastesi.
Nyeri dan ketidaknyamanan postoperatif.
Resiko terhadap cedera.
Hipotermi.
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan.
Perubahan eliminasi urinarius.
Konstipasi b.d motilitas lambung dan usus.
Kerusakan mobilitas fisik.
Ansietas tentang diagnosis postoperatif.
Manajemen Keperawatan
Intervensi
Memastikan fungsi pernapasan yang optimal dan meningkatkan ekspansi paru.
Meredakan nyeri dan mual muntah, peredaan nyeri tergantung pada letak lokasi pembedahan, perubahan posisi pasien, distraksi, dan pemijatan punggung dengan lotion yang menyegarkan dapat sangat membantu dalam ketidak nyamanan.
Manajemen Keperawatan
… Intervensi

Mempertahankan suhu tubuh, suhu ruangan dipertahankan dengan nyaman dan selimut disediakan mencegah menggigil.
Menghindari cedera, melalui pemantauan yang cermat ketika pasien sadar dari pengaruh anastesi.
Mempertahankan status nutrisi, memberikan diet yang adekuat, nutrisi parenteral.
Manajemen Keperawatan
… Intervensi

Meningkatkan fungsi urinarius normal, dicoba semua metode yang diketahui dapat membantu pasien dalam berkemih, pemasangan kateter.
Konstipasi, jika cairan atau serat dan laksatif tidak efektif, enema dapat digunakan.
Mengurangnya ansietas dan mencapai kesejahteraan psikososial, dibuat tentang perawatan dirumah yang diperlukan setelah pemulangan, kunjungan perawatan di rumah diatur jika diperlukan.
Manajemen Keperawatan
Evaluasi
Pasien mempertahankan fungsi pernapasan yang optimal.
Nyeri berkurang atau hilang.
Menunjukkan suhu normal.
Terhindar dari cedera.
Menunjukkan motilitas gastrointestinal meningkat.
Berkemih adekuat.
Bising usus normal.
Ikut serta dalam perawatan diri.

Sumber : Materi Kuliah Keperawatan Anak
STIkKes Muhammadiyah Banjarmasin 2009
Dosen : Kamilah F Mustika, S.Kep.Ners

Lebih lengkap disini: KEPERAWATAN PERIOPERATIF | kumpulan download KTI kebidanan keperawatan
http://terselubung.cz.cc/

poposal TAK

BAB  I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Terapi Modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa, terapi ini diberikan dalam upaya mengubah perilaku pasien yang maladaptif menjadi adaptif. Salah satu dari terapi modalitas adalah yaitu terapi kelompok. Terapi kelompok adalah suatu psikoterapi yang dilakukan oleh sekelompok pasien secara bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin dan diarahkan oleh seorang terapis.
TAK (Terapi Aktivitas Kelompok) adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama (keliat, 2006).
Tujuan dari terapi ini adalah klien mampu meningkatkan kemampuan bersosialisasi, saling memperhatikan, memberi tanggapan kepada orang lain, mengekspresikan ide serta menerima lingkungan. Keuntungan yang dapat diperoleh dari terapi kelompok adalah dukungan, peningkatan kemampuan, pemecahan masalah dan meningkatkan uji realitas pada harga diri rendah.
Sosialisasi adalah hubungan antara orang dengan orang lainnya yang didalamnya salin membutuhkan dan dapat saling tolong menolong. Model yang digunakan dalam sosialisasi ini adalah model sosialisasi interpersonal. Berdasarkan hasil di lapangan, pasien mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Oleh karena itu kelompok menganggap perlu dilakukan terapi kelompok menganggap perlu dilakukan terapi kelompok untuk pasien yang mengalami kesulitan dalam bersosialisasi.

B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum :
Peserta TAK mampu meningkatkan hubungan interpersonal anggota kelompok, berkomunikasi, saling memperhatikan, mampu berespon terhadap stimulasi yang diberikan.
2.      Tujuan Khusus :
a.       Klien mampu memperkenalkan diri
b.   Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
c.   Klien mampu bercakap – cakap dengan anggota kelompok
d.   Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik percakapan
e.   Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi padaorang  lain.
f.   Klien mampu bekerja sama dalam permainan sosial kelompok
g.  Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatan TAKS yang telah dilakukan.
3. Tujuan hari ini :
a. Klien dapat menyebutkan identitas dirinya (nama, asal tempat tinggal & hobby)
b. Klien dapat berkenalan dengan orang lain
c. klien dapat mengungkapkan perasaannya, selama dan setelah TAK
d. Klien dapat menerima realita dana dapat mengungkapkan perasaan yang diharapkan
e. Metode TAK : Sosialisasi sesi I dan II.



C.    Sasaran
1.      Persyaratan anggota kelompok
Kegiatan terapi ini akan diikuti oleh klien yang mengalami gangguan fungsi mental seperti skizofrenia yang telah diseleksi dengan kriteria :
a.       Klien kooperatif
b.      Klien dalam keadaan tenang
c.       Klien yang tidak mempunyai gangguan kesehatan fisik
d.      Klien yang dapat berkomunikasi
2.      Jumlah anggota kelompok
6 (enam) orang
3.      Anggota Kelompok :
a.       Ny. Yanti
b.      Ny. Diarti
c.       Ny. Neng Nuraeni
d.      Ny. Eliza
e.       Ny. Endang
f.       Ny. Mimin
D.    Persiapan
1.      Proses seleksi
a. Berdasarkan observasi perilaku sehari-hari klien yang dikelola oleh perawat.
b. Berdasarkan informasi dan diskusi mengenai perilaku klien sehari-hari serta kemungkinan dilakukan kelompok pada klien tersebut dengan perawat ruangan.
c. Melakukan kontak mata pada klien untuk mengikuti aktivitas yang akan lakukan.
d. Mengidentifikasi klien yang memiliki masalah dalam bersosialisasi.
E. Kriteria Evaluasi
65% anggota kelompok dapat mencapai tujuan khusus yang telah ditetapkan dengan kriteria :
1.      Klien dapat memperkenalkan dirinya
2.      Klien dapat bekerjasama dalam kegiatan TAK
3.      Klien dapat bersosialisasi dengan anggota kelompok TAK.
F. Jadwal Kegiatan
Hari/Tanggal                       : Selasa, 12 November 2013
Tempat                                : Ruang Nuri Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat
Lama                                   : 30 menit
G. Metode Pelaksanaan
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
3. Demonstrasi
4. Bermain peran
5. Brain storming
H. Media dan Alat
1. Tape Recorder
2. Balon
3. Kaset
I. Struktur Organisasi dan Uraian Tugas Terapis
Pengorganisasian dan uraian tugas terapis
1.    Leader
Tugas :
a.               Menyeleksi peserta TAK
b.              Membuka acara
c.               Memperkenalkan anggota TAK
d.              Menjelaskan tujuan TAK
e.               Menetapkan jalannya tata tertib
f.               Memimpin jalannya TAK
g.              Mengatur jalannya TAK
h.             Dapat mengambil keputusan yang tepat dan dapat menyimpulkan hasil TAK pada kelompok terapi tersebut
i.                Menutup jalannya TAK
2.         Co Leader
Tugas :
a.                   Mendampingi leader
b.                   Membantu leader menjalankan tugasnya
c.                   Mengambil alih acara jika leader pasif dan menyerahkan acara
d.                  Mengingatkan leader bila diskusi menyimpang
e.                   Bersama leader memberi contoh kerjasama yang baik
3.         Fasilitator
Tugas :
a.                   Mendampingi klien saat diskusi
b.                   Mengarahkan klien saat diskusi
c.                   Memfasilitasi klien saat kegiatan berlangsung
d.                  Memotivasi peserta agar aktif dalam TAK
e.                   Menjadi contoh bagi klien selama kegiatan
4.         Observer
Tugas :
a.                   Mengamati dan mencatat respon klien selama kegiatan
b.                   Mengidentifikasi motivasi klien dalam mengikuti TAK
c.                   Mencatat hasil dari diskusi
d.                  Memberikan tanggapan terhadap jalannya kegiatan
J. Tata Tertib
1. peserta bersedia mengikuti TAK
2. Peserta hadir 5 menit sebelum acara dimulai
3. peserta tidak boleh makan, minum, ataupun merokok
4. Peserta tidak boleh meninggalkan tempat dan wajib mengikuti kegiatan sampai selesai.
5. peserta harus bermain secara sportif
6. meminta izin dengan mengacungkan tangan ketika ingin ke toilet
7. peserta harus menerima keputusan dan hasil akhir
8. jika ada anggota melakukan hal – hal yang mengganggu jalannya TAK maka anggota tersebut dikeluarkan dari kegiatan TAK
K. Strategi pelaksanaan
1. Fase perkenalan 5 menit
a. therapis mempersiapkan lingkungan dan selanjutnya mengatur posisi
b. mengucapkan salam
c. memperkenalkan anggota yang hadir
d. therapis menjelaskan tujuan TAK
e. therapis menjelaskan topik yang akan dibahas
f. membuat kontrak waktu
g. membacakan tata tertib
2. Fase kerja 15 menit
a. penjelasan tentang sosialisasi
b. meminta anggota kelompok/peserta saling berkenalan
c. permainan dimulai dengan lagu disetel dan peserta saling berpasangan melakukan joged balon
d. ketika lagu berhenti peserta harus diam dan menjaga agar balon tidak jatuh
e. peserta yang balonnya jatuh dihukum dengan pertanyaan sosialisasi dan mempraktekkan cara berkenalan.
3. Fase Terminasi 10 menit
a.       Leader meminta tanggapan dari klien terhadap kegiatan yang telah dilakukan
b.      Leader menanyakan perasaan klien setelah mengikuti kegiatan TAK tersebut.
c.       Menyimpulkan kegiatan yang telah dilakukan dan memotivasi anggota kelompok untuk mengikuti kegiatan lainya yang positi.
d.      Observer memberikan tanggapan terhadap jalannya TAK.
e.       Menutup acara.



L. Setting tempat
            : Leader
            : Co Leader
            : Pasien
            : Fasiliator
            : Observer

M.Program Antisipasi
1.      jika peserta menghindari pertemuan maka leader memberitahukan ia harus langsung di forum diskusi.
2.      Bila ada peserta yang menggunakan kekerasan maka leader dibantu fasilitator untuk mengarahkan klien pada tingkah laku yang asertif.
3.      Jika ada hal hal diluar perencanaan libatkan perawat yang bersangkutan.
N. Evaluasi dan dokumentasi
1. Evaluasi
            Evaluasi dilakukan pada saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja untuk menilai kemampuan klien melakukan TAK. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Di evaluasi kemampuan klien memperkenalkan diri secara verbal dan non verbal. Fornat evaluasinya adalah sebagai berikut.

a.       Kemampuan verbal
No
Aspek yang dinilai
Nama klien




1.
Menyebutkan nama lengkap sendiri




2
Menyebutkan nama panggilan sendiri




3
Menyebutkan hobi sendiri




4
Melatih cara berkenalan




5
Menyampaikan pendapat kelompok tentang manfaat kegiatan





b.      Kemampuan non verbal
No
Aspek yang dinilai
Nama klien




1.
Kontak mata




2
Duduk tegak




3
Menggunakan bahasa tubuh yang sesuai




4
Mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir





Petunjuk :
1)      Dibawah judul nama klien, tulis nama panggilan klien yang mengikuti TAK
2)      Untuk tiap klien, semua aspek dinilai dengan memberi tanda (√) jika ditemukan pada klien atau tanda (x) jika tidak ditemukan.


2.      Dokumentasi
Dokumentasikan kemampuan yang dinilai klien saat terapi pada catatan proses keperawatan tiap tiap klien. Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien ketika TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien
O. Penutup
Demikian proposal ini kami susun semoga bisa bermanfaat bagi proses terapi. kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kelancaran dan perbaikan kegiatan TAK.












BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Pengertian
Sosialisasi adalah proses yang membantu individu untuk belajar dan menyesuaikan diri tentang bagaimana cara hidup dan cara berpikir kelompoknya agar dapat berperan dan berfugsi dalam kelompoknya.(Charlotte Buehler)
Sosialisasi adalah sutatu proses yang menempatkan anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di tempat dia menjadi anggota.(Soerjono Soekanto)
Sosialisasi adalah proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakatnya untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitas untuk berfungsi, baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok.(Bruce J.Cohen)
sosialisasi adalah proses seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlakukannya agar dapat berfungsi sebagai orang dewasa dan sekaligus sebagai pemeran aktif dalam suatu kedudukan atau peranan tertentu di masyarakat. (Ritcher JR  1987 : 139)
B.           Tujuan sosialisasi
1.      Memberikan keterampilan kepada seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat
2.      Mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif
3.      Membantu mengendalikan fungsi-fungsi organik yang dipelajari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
4.      Membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada di masyarakat.
5.      Seseorang mampu menjadi anggota masyarakat yang baik
6.      Seseorang dapat menyesuaikan tingkah lakunya sebagai harapan masyarakat
7.      Seseorang akan lebih mengenal dirinya sendiri dalam lingkungan sosialnya
8.      Seseorang akan menyadari eksistensi dirinya terhadap masyarakat di sekelilingnya

C.        Manfaat Sosialisasi
1.  Mempunyai banyak teman
2. Dapat mengurangi beban atau masalah
3. Mengetahui perkembangan dan informasi
4. Mempererat silahturahmi

D.        Kerugian tidak bersosialisasi
1. Tidak mempunyai teman
2. Kesepian
3. Tidak mengetahui perkembangan dan informasi

E.        Cara Berkenalan
1. Senyum
2. Memberikan salam
3. Menjabat tangan (sambil menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, alamat dan hobby)
4. Menanyakan Identitas




DAFTAR PUSTAKA
Keliat, Budi Anna, 2005. Keperawatan Jiwa (Terapi Aktivitas Kelompok). Jakarta : EGC.
Keliat, Budi Anna, 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Stuart and Sundeen, 1998. Buku Saku Keperawatan jiwa Edisi 3. Jakarta : EGC