Kamis, 19 Desember 2013

Asuhan Keperawatan Angina Pektoris

KONSEP MEDIK
A.      PENGERTIAN
Angina pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersifat sementara atau reversibel. (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993).
Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan sebelah kiri yang timbul pada waktu aktifitas dan segera hilang bila aktifitas berhenti. (Prof. Dr. H.M. Sjaifoellah Noer, 1996). Angina pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum (Penuntun Praktis Kardiovaskuler).
B.       ETIOLOGI
Angina Pectoris disebabkan oleh karena berkurangnya aliran darah ke arteria coronaria yang salah satu penyebabnya adalah aterosclerosis, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke myocardium dan kebutuhan oksigen.
Ø  FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1.    Dapat Diubah (dimodifikasi)
a.       Diet (hiperlipidemia)
b.      Rokok
c.       Hipertensi
d.      Stress
e.       Obesitas
f.       Diabetes Mellitus
2.    Tidak dapat diubah
a.       Usia
b.      Jenis Kelamin
c.       Ras
d.      Herediter
Ø  Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain :
1.      Emosi
2.      Stress
3.      Kerja fisik terlalu berat
4.      Hawa terlalu dingin
5.      Banyak merokok
C.      GEJALA
Tidak semua penderita iskemia mengalami angina. Iskemia yang tidak disertai dengan angina disebut silent ischemia. Masih belum dimengerti mengapa iskemia kadang tidak menyebabkan angina. Biasanya penderita merasakan angina sebagai rasa tertekan atau rasa sakit di bawah tulang dada (sternum). Nyeri juga bisa dirasakan dibahu kiri atau di lengan kiri sebelah dalam - punggung - tenggorokan, rahang atau gigi - lengan kanan (kadang-kadang). Banyak penderita yang menggambarkan perasaan ini sebagai rasa tidak nyaman dan bukan nyeri.
ü  Penderita mengeluh nyeri dada yang beragam bentuk dan lokasinya.
ü  Nyeri berawal sebagai rasa terhimpit, rasa terjepit atau rasa terbakar yang
menyebar ke lengan kiri bagian dalam dan kadang sampai ke pundak, bahu
dan leher kiri, bahkan dapat sampai ke kelingking kiri.
ü  Perasaan ini dapat pula menyebar ke pinggang, tenggorokan rahang gigi dan
ada juga yang sampai ke lengan kanan.
ü  Rasa tidak enak dapat juga dirasakan di ulu hati.
ü  Rasa nyeri dapat disertai beberapan atau salah satu gejala berikut ini : berkeringat dingin, mual dan muntah, rasa lemas, berdebar dan rasa akan pingsan (fainting).
ü  Biasanya angina timbul saat melakukan kegiatan fisik (angina stabil).
ü  Serangan ini akan hilang bila penderita menghentikan kegiatan fisik tersebut
dan beristirahat.
ü  Serangan berlangsung hanya beberapa menit (1 – 5 menit) tetapi bisa sampai
lebih dari 20 menit.
ü  Nyeri angina sifatnya konstan. Bila terjadi perubahan misalnya lama
serangan bertambah, nyeri lebih hebat, ambang timbulnya serangan menurun atau serangan datang saat bangun tidur, maka gangguan ini perlu
diwaspadai. Perubahan ini mungkin merupakan tanda prainfark (angina tidak
stabil).
ü  Suatu bentuk ubahan (variant) yang disebut angina Prinzmetal biasanya timbul
saat penderita sedang istirahat.
ü  Angina dikatakan bertambah berat apabila serangan berikutnya terjadi sesudah
kerja fisik yang lebih ringan, misalnya sesudah makan. Ini tergolong juga
angina tidak stabil.
ü  Pemeriksaan fisik diluar serangan umumnya tidak menunjukkan kelainan yang
berarti. Pada waktu serangan, denyut jantung bertambah, tekanan darah
meningkat dan di daerah prekordium pukulan jantung terasa keras.
ü  Pada auskultasi, suara jantung terdengar jauh, bising sistolik terdengar pada
pertengahan atau akhir sistol dan terdengar bunyi keempat.
ü  Biasanya didapatkan faktor risiko: hipertensi, obesitas atau diabetes melitus.
D.      PATOFISIOLOGI DAN PATHWAYS
Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidak adekuatan suplay oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekakuan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggung jawab atas perkembangan ateriosklerosis.
Ateriosklerosis merupakan penyakit arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen keotot jantung.
Namun apabila arteri koroner mengalami kekakuan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium. Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksida) yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif.
Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang. Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.
Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.
Sejumlah faktor yang dapat menimbulkan nyeri angina:
1.      Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
2.      Pajanan terhadap dingin dapat mengakibatkan vasokontriksi dan peningkatan tekanan darah, disertai peningkatan kebutuhan oksigen.
3.      Makan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrik untuk pencernaan, sehingga menurunkan ketersediaan darah unuk supai jantung.
4.      Stress atau berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan, menyebabkan frekuensi jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat.
E.       TIPE ANGINA
1.      Angina Pektoris StabilDisebut juga angina klasik, terjadi jika arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat berdilatasi untuk meningkatkan alirannya sewaktu kebutuhan oksigen meningkat. Peningkatan kerja jantung dapat menyertai aktivitas misalnya berolah raga atau naik tangga.
·         Awitan secara klasik berkaitan dengan latihan atau aktifitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen niokard.
·         Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian aktifitas.
·         Durasi nyeri 3 – 15 menit.
2.      Angina Pektoris Tidak Stabil (Angina pra infark; Angina kresendo)
Adalah kombinasi angina stabil dengan angina prinzmetal, dijumpai pada individu dengan perburukan penyakit arteri koroner. Angina ini biasanya menyertai peningkatan beban kerja jantung. Hal ini tampaknya terjadi akibat arterosklerosis koroner, yang ditandai oleh trombus yang tumbuh dan mudah mengalami spasme.
·         Adurasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pektoris stabil.
·         Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tigkat aktifitas ringan.
·         Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus, trombus atau trombosit yang beragregasi.
3.      Angina Prinzmental (Angina Varian: Istrahat)
Angina yang terjadi karena spasme arteri koronaria. Berhubungan dengan risiko tinggi terjadinya infark.
·         Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali pagi hari.
·         Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroneraterosklerotik.
·         Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akut.
·         Dapat terjadi aritmia.
4.      Angina Nokturnal
Nyeri terjadi saat malam hari,biasanya saat tidur dan dapat dikurangi dengan duduk tegak. Biasanya akibat gagal ventrikel kiri.
5.      Angina Refrakter atau Intraktabel
Angina yang sangat berat sampai tidak tertahankan.
6.      Angina Dekubitus
Angina saat berbaring.
7.      Iskemia tersamar
Terdapat bukti obyektif iskemia (seperti tes pada stress) tetapi pasien tidak menunjukkan gejala.
F.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
v  Elektrokardiogram
Gambaran elektrokardiogram (EKG) yang dibuat pada waktu istirahat dan bukan pada waktu serangan angina seringkali masih normal. Gambaran EKG kadang-kadang menunjukkan bahwa pasien pernah mendapat infark moikard pada masa lampau. Kadang-kadang EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri pada pasien hipertensi dan angina. Kadang-kadang EKG menunjukkan perubahan segmen ST dan gelombang T yang tidak khas. Pada waktu serangan angina, EKG akan menunjukkan adanya depresi segmen ST dan gelombang T menjadi negatif.
v  Foto Rontgen Dada
Foto rontgen dada seringkali menunjukkan bentuk jantung yang normal, tetapi pada pasien hipertensi dapat terlihat jantung yang membesar dan kadang-kadang tampak adanya kalsifikasi arkus aorta.
v  Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak begitu penting dalam diagnosis angina pectoris. Walaupun demikian untuk menyingkirkan diagnosis infark miokard jantung akut maka sering dilakukan pemeriksaan enzim CPK, SGOT, atau LDH. Enzim tersebut akan meninggi pada infark jantung akut sedangkan pada angina kadarnya masih normal. Pemeriksaan lipid darah seperti kadar kolesterol, HDL, LDL, dan trigliserida perlu dilakukan untuk menemukan faktor resiko seperti hiperlipidemia dan pemeriksaan gula darah perlu dilakukan untuk menemukan diabetes mellitus yahng juga merupakan faktor risiko bagi pasien angina pectoris.
v  Uji Latihan Jasmani
Karena pada angina pectoris gambaran EKG seringkalimasih normal, maka seringkali perlu dibuat suatu ujian jasmani. Pada uji jasmani tersebut dibuat EKG pada waktu istirahat lalu pasien disuruh melakukan latihan dengan alat treadmill atau sepeda ergometer sampai pasien mencapai kecepatan jantung maksimal atau submaksimal dan selama latihan EKG di monitor demikian pula setelah selesai EKG terus di monitor. Tes dianggap positif bila didapatkan depresi segmen ST sebesar 1 mm atau lebih pada waktu latihan atau sesudahnya. Lebih-lebih bila disamping depresi segmen ST juga timbul rasa sakit dada seperti pada waktu serangan, maka kemungkinan besar pasien memang menderita angina pectoris. Di tempat yang tidak memiliki treadmill, test latihan jasmani dapat dilakukan dengan cara Master, yaitu latihan dengan naik turun tangga dan dilakukan pemeriksaan EKG sebelum dan sesudah melakukan latihan tersebut.
G.      TERAPI FARMAKOLOGI
§  Nitrogliserin.
Senyawa nitrat masih merupakan obat utama untuk menangani angina pektoris. Nitrogengliserin diberikan untuk menurunkan konsumsi jantung yang akan mengurangi iskemia dan mengurangi nyeri agina.
Nitrogliserin adalah bahan vasoaktif yang berfungsi melebarkan baik vena maupun arteria sehingga mempengaruhi sirkulasi parifer.dengan pelebaran vena terjadi penggumpalan darah vena di seluruh tubuh. Akibatnya hanya sedikit darah yang kembali ke jantung dan terjadilah penurunan tekanan pengisian (preload).
Nitrat juga melepaskan arteriol sistemik dan menyebabkan penurunan tekanan darah (penurunan afterload). Semua itu berakibat pada penurunan oksigen pada jantung, menciptakan suatu keadaan yang lebih seimbang antara suplay dan kebutuhan. Nitrogliserin biassanya diletakkan dibawah lidah (sublinguinal) atau di pipi (kantong bukal) dan akan menghilangkan nyeri iskemia dalam 3 menit.
o   Pasien diminta untuk menggerakkan dan jangan menelan ludah sampai tablet nitrogliserin larut. Bila nyeri sangat berat, tablet dapat dikunyah untuk dapat mempercepat penyerapan dibawah lidah.
o    Sebagai pencegahan, pasien harus selalu membawa obat ini. Nitrogliserin bersifat sangat tidak stabil dan harus disimpan dalam botol gelap tertutup rapat. Nitogliserin tidak dapat disimpan dalam botol plastik atau logam.
o   Nitrogliserin mudah menguap dan menjadi tidak aktif bila terkena panas, uap, udara,cahaya dalam waktu lama. Bila ntrogliserin masih segar, pasien akan merasa terbakar di bawah lidah dan kadang kepala terasa tegang dan berdenyut. Persiapan nitrogliserin harus diperbaharui setiap 6 bulan sekali.
o   Selain menggunakan dosis yang telah ditentukan, pasien harus mengatur sendiri dosis yang diperlukan, yaitu dosis terkecil yang dapat menghilangkan nyeri. Obat harus digunakan untuk mengantisipasi bila akan melakukan aktivitas yang mungkin akan mengakibatkan nyeri. Karena Nitrogliserin dapat meningkatkan toleransi pasien terhadap latihan dan setres bila digunakan sebagai pencegahan (misal sebelum latihan, menaiki tangga, hubungan seksual) maka lebih baik gunakan obat ini sebelum rasa nyeri muncul.
o   Pasien harus mengingat berapa lama kerja nitrogliserin dalam menghilangkan nyeri, bila nyeri tidak dapat dikurangi dengan notrogliserin, harus dicurigai adanya infark miokardium.
o    Bila nyeri menetap setelah memakai tiga (3) tablet sublingual dengan interval 5 menit, pasien dianjurkan segera dibawa fasilitas perawatan darurat terdekat.
§  Efek samping nitrogliserin meliputi rass panas, sakit kepala berdenyut, hipertensi, dan takikardi. Penggunaan preparat nitrat long-acting masih diperdebatkan. Isrobid dinitrat (isordil) tampaknya efeksamping 2 jam bila digunakan di bawah lidah, tapi efeknya tidak jelas bila diminum peroral.
§  Salep Nitrogliserin Topikal. Nitrogliserin juga tersedia dalam bentuk Lnilin-petrolatum. Bentuk ini dioleskan di kulit sebagai perlindungan terhadap nyeri angina dan mengurangi nyeri. Bentuk ini sangat berguna bila digunakan pada pasien yang mengalami angina pada malam hari atau yang menjalankan aktivitas dalam waktu yang cukup lama (misal main golf) karena mempunyai efek jangka panjang sampai 24 jam.
Biasanya dosis ditingkatkan sampai sakit kepala atau efek berat terhadap tekanan darah atau tekanan jantung, kemudian diturunka sampai dosis tertinggi yang tidak menimbulkan efek samping tersebut. Cara pemakaian salep biasanya dilampirkan pada kemasan. Pasien diingatkan untuk mengganti tempat yang akan dioleskan salep untuk mencegah iritasi kulit.
Penyekat Beta-adrenergik. Bila pasien tetap menderita nyeri dada meskipun telah mendapat nitrigliserin dan merubah gaya hidup, maka diperlukan bahan penyekat beta adrenergik.
§  Propanolol hidroklorit ( Inderal) masih merupakan obat pilihan.
Obat ini berfungsi menurunkan konsumsi oksigen dengan menhambat impuls simpatis ke jantung. Hasilnya terjadi penurunan frekuensi jantung, tekanan darah, dan kontraksi jantung yang menciptakan suatu keseimbangan antara kebutuhan oksigen jantung dan jumlah oksigen yang tersedia. Hal ini dapat membantu mengontrol nyeri dada dam memungkinkan pasien bekerja atau berolahraga. Propanolol dapat diberikan bersama isorbid dinitrat sub lingual atau oral untuk mencegah nyeri angina. Propanolol dibersihkan oleh hati dengan kecepatan bervariasi, tergantung dari masing-masing pasien. Biasanya diberikan dengan interval 6 jam, efek sampingnya meliputi kelemahan muskuloskeletal, brakikardia, dan depresi mental. Bila propanolol diberikan, maka tekanan darah dan frekuensi jantung harus dipantau (denngan pasien dengan posisi tegak) 2 jam setelah pemberian obat. Pemberian dapat dilakukan oleh anggota keluarga dirumah atau petugas kesehatan. Jika tekanan darah turun secara mendadak, maka perlu diberikan vasopresor. Bila terjadi brakikardi berat, atropin merupakan atridot pilihan. Juga penting diingat bahwa propanolol dapat mencetus gagal jantung kongesti dan asma.
§  Pasien diperingatkan untuk tidak berhenti minum propanolol secara mendadak,karena ada bukti bahwa angina akan menjadi lebih parah dan dapat timbul infark miokardium, bila dihentikan secara mendadak. Antagonis Ion Kalsium/Penyekat Kanal. Penyekat atau antagonis kalsium memiliki sifat yang sangat berpengaruh kebutuhan dan suplai oksigen jantung, jadi berguna untuk menangani angina. Secara fisiologis, ion kalsium berperan ditingkat sel mempengaruhi kontraksi semua jaringan otot dan berperan dalam stimulus listrik pada jantung. Antagonis/ penyekat ion kalsium meningkatkan suplai oksigen jantung dengan cara melebarkan dinding otot polos arteriol koroner dan mengurangi kebutuhan jantung dengan menurunkan tekanan arteri sistemik dan, demikian juga beban kerja ventrikel kiri. Tiga Antagonis/ penyekat ion kalsium yang biasa digunakan adalah nifedipin (Prokardia), verapamil (Isoptin, Calan) dan diltiazen ( Cardizem). Efek vasodilatasi obat-obat tersebut, terutama pada sirkulasi koroner, berguna untuk angina yang diakibatkan oleh vasospasme koroner (angina prinzmetal). Penyekat kalsium harus digunakan secara hati-hati pada pasien gagal jantung karena obat ini akan menyekat kalsium yang mendukung kontraktilitass. Hipotensi dapat terjadi pada pemberian intra vena (IV). Efek samping yang bisa terjadi adalah konstipasi, distres lambung, pusing atau sakit kepala. Antagonis/penyekat kalsium biasanya diberikan tiap 6-12 jam. Untuk setiap individu dosis terapeutiknya berbeda.
§  Aspirin. Banyak studi telah membuktiksn bahwa aspirin dapat mengurangi kematian jantung dan infark fatal maupun non fatal dari 51% -72% pada pasien dengan angina tak stabil. Oleh klarena itu aspirin dianjurkan untuk diberikan seumur hidup dengan dosis awal 160 mg perhari dan dosis selanjutnya 80 sampai 3325 mg perhari.
§  Tiklopidin.
Suatu derivat tienopiridin merupakan obat lini kedua dalam pengobatan angina tak stabil bila pasien tidak tahann aspirin. Studi dengan tiklopidin dibandingkan plasebo pada angina tak stabil ternyata menunjukkan bahwa kematian dan infark non fatal berkurang 46,3%. Dalam pemberian tiklopidin harus diperhatikan efek samping granulositopenia, dimana insidens 2,4%. Dengan adanya klopidogrel yang lebih aman pemakaian tiklopidin mulai ditinggalkan. Inhibitor Glikoprotein IIb/IIIa. Ikatan fibrinogen dengan reseptor GP Iib/IIIa pada platelet ialah ikatan terakhir pada proses agregasi platelet. Karena inhibitor GP IIb/IIIa menduduki reseptor tadi maka ikatan platelet dengan fibrinogen dapat dihalangi dan agregasi platelet tidak terjadi.
H.      Terapi Non Farmakologis
Ada berbagai cara lain yang diperlukan untuk menurunkan kebutuhan  oksigen jantung antara lain : pasien harus berhenti merokok, karena merokok mengakibatkan takikardia dan naiknya tekanan darah, sehingga memaksa jantung bekerja keras. Orang obesitas dianjurkan menurunkan berat badan untuk mengurangi kerja jantung. Mengurangi stress untuk menurunkan kadar adrenalin yang dapat menimbulkan vasokontriksi pembulu darah. Pengontrolan gula  darah. Penggunaan kontra sepsi dan kepribadian seperti sangat kompetitif, agresif atau ambisius. 


PROSES KEPERAWATAN
Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Angina Pektoris
1.        Pengkajian
A.    Data demogrfi yang terdiri dari : Nama, Umur, Jenis Kelamin, Agama, Suku Atau Kebangsaan , Pekerjaan, Pendidikan, Alamat, Diagnosis Medis, Nomor Registrasi, Tanggal Dan Jam Masuk Rumah Sakit, Tanggal Dan Waktu Pengkajian Keperawatan.
B.     Riwayat Keperawatan :
1.      Keluhan Utama
Merupakan keluhan yang paling menonjol yang dirasakan klien & merupakan alasan yang membuat klien datang ke RS.
2.      Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan informasi tentang keadaan & keluhan-keluhan klien saat timbul serangan, durasi kronologis, & frekuensi serangan, lokasi, penjalaran, kualitas & intensitas serangan, faktor-faktor predisposisi atau presipitasi serta hal apa saja yang telah dilakukan untuk mengurangi keluhan.
CHES PAIN
Perawat mengumpulkan informasi tentang seluruh segi aktivitas pasien, terutama mereka yang ditemukan beresiko mengalami serangan jantung atau nyeri angina.
Pertanyaan yang sesuai mencakup:
ü  Kapan cenderung terjadi serangan? Setelah makan? Setelah melakukan aktivitas tertentu? Setelah melakukan aktivitas secara umum? Setelah mengunjungi anggota keluarga atau teman-teman?
ü  Bagaimana pasien menggambarkan nyerinya?
ü  Apakah awitan nyeri mendadak atau bertahap?
ü  Bagaimana hal itu terjadi dalam berapa detik? Menit? Jam?
ü  Apakah kualitas nyeri menetap atau terus-menerus?
ü  Apakah rasa nyaman disertai dengan gejala seperti perspirasi yang berlebihan, sedikit sakit kepala, mual, palpitasi dan napas pendek?
ü  Bagaimana nyeri berkurang?
3.      Riwayat Penyakit Masa Lalu
Riwayat penyakit yang pernah diderita klien terutama penyakit yang mendukung munculnya penyakit saat ini. Misalnya Hipertensi, DM, dan lain sebagainya.
4.      Riwayat Psikososial
Dampak yang dapat ditimbulkan pada kehidupan sosial klien. Klien maupun keluarga menghadapi situasi yang menghadirkan kemungkinan kematian atau rasa takut terhadap nyeri, ketidakmampuan, gangguan harga diri, ketergantungan fisik, serta perubahan dinamika peran keluarga.
5.      Pola Aktivitas Sehari – Hari
Meliputi pola asupan nutrisi dan cairan, pola eliminasi, pola istirahat tidur, personal hygiene, aktivitas atau kebiasaan lain serta hobi yang bisa memperburuk keadaan pasien.
C.     Pengkajian Fisik
1.      Kesan Umum
Gambaran kondisi klien yang terobservasi oleh pemeriksa tingkat ketegangan atau kelelahan , warna kulit, tingkat kesadaran kualitatif maupun kuantitatif dgn penilaian skor glasgow coma scale, pola napas, posisi klien dan respon verbal klien.
2.      Tanda – Tanda Vital
a.       Frekuensi Pernapasan
Dewasa frekuensi pernapasan normal adalah 12 – 20 /menit. Lebih dari 24/menit dalam keadaan istirahat tanda awal gagal jantung
b.      Temperatur Tubuh
Terjadi peningkatan suhu tubuh pada pancarditis atau fase akut infark miokard.
c.       Denyut Nadi
Denyut nadi akan meningkat atau menurun tergantung dari mekanisme kompensasi sistem konduksi jantung dan pengaruh sistem saraf otonom
3.      Kepala Dan Leher
a.       Wajah
ü  Pucat dibibir dan kulit di wajah merupakan manifestasi anemia atau kurang adekuatnya perfusi jaringan
ü  Kebiruan mukosa mulut, bibir dan lidah, manifestasi sianosis sentral akibat peningkatan jumlah hemoglobin yang kurang mengandung oksigen
ü  Edema periorbital, merupakan tanda penurunan laju filtarsi glomerulus ginjal serta retensi air dan garam
ü  Grimace, tanda kesakitan atau tanda kelelahan
b.      Mata
ü  Konjungtiva pucat merupakan manifestasi anemia
ü  Konjungtiva kebiruan sianosis sentral
ü  Ptechiae menandakan adanya emboli kapiler mata
ü  Ikterik merupakan tanda adanya gangguan faal hati
ü  Gangguan visus kerusakan pembuluh darah retina yg terjadi akibat komplikasi hipertensi
c.       Leher
ü  Arteri Karotis
ü  Kelenjar Tiroid
ü  trakea        
d.      Toraks (Paru & Jantung)
ü  Inspeksi
a.       Kesimetrisan bentuk toraks
b.      Pernapasan
c.       Vaskuler dan jantung
ü  Palpasi
a.       Tactile fremitus
b.      Denyut apeks ICS Vmid klavikulaline kiri
c.       Getaran
d.      Lokasi denyut arteri
ü  Perkusi
a.       Paru kiri lebih tinggi dari paru kanan
b.      Fibrosis, konsolidasi, efusi pleura, tumor
c.       Batas paru menurun pada orang tua, emfisema dan pneumatoraks
d.     Hasil perkusi normal toraks resonan/sonor
ü  Auskultasi
a.       Suara napas dan napas tambahan ( Rales, Ronkhi, Whesing) Bunyi Jantung, I , II, III, Iv
b.      Bising Jantung ( murmur) disfungsi katurp nitral, aorta, trikuspid, pulmonal.
e.       Abdomen
ü  Inspeksi
a.       Bentuk abdomen, distensi dan gerakan diding perut
b.      Pelebaran vena abdominal
c.       Denyutan dinding abdomen
ü  Auskultasi
·         Menilai peristaltik usus dan bising sistolik olah karena aneurisma aorta abdominal
ü  Palpasi
a.       Hepatomegali
b.      Asites
ü  Perkusi
·         Shifting dullnes menunjukkan adanya asites /akumulasi cairan .
f.       Ekstremitas & Integumen
ü  Inspeksi
a.       Warna kulit
b.      Purpura/ptechie
c.       Eritema nodusum (nodul ) pada daerah tibia tanda endokarditis streptococcus
d.      Spinter hemorrhagic pada kuku merupakan tanda adanya infeksi bakterial
e.       Capillary Refill time
f.       Clubbing finger ( sudut kuku > 180 )
g.      Edema 
ü  Palpasi
a.       Pitting edema
b.      Suhu ekstremitas
c.       Nyeri akibat tromboplebitis vena kaki
d.      Denyut nadi di temporal, karotid, brakial, radialis, femoral, popliteal, posterotibial, dan dorsalis pedis. ( keadaan pembuluh darah, frekuensi, irama, ciri denyutan, amplitudo nadi).
2.      Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul :
*      Nyeri berhubungan dengan iskemia jantung
*      Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian
*      Kurang pengetahuan tentang sifat dasar penyakit berhubungan dengan deficit knowlege.
*      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
3.      Intervensi dan Implementasi
Tujuan utama mencakup mencegah nyeri, mengurangi cemas, menghindari salah paham terhadap sifat dasar penyakit dan perawatan yang diberikan, mematuhi program perawatan diri dan mencegah komplikasi.
*      Nyeri berhubungan dengan iskemia jantung
Intervensi :
1.      Kaji gambaran dan faktor-faktor yang memperburuk nyeri
2.       Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam pertama) dengan posisi semi fowler.
3.      Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina
4.       Ciptakan lingkungan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.
5.      Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.
6.      Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.
7.      Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
8.      Kolaborasi pengobatan.
*      Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian
Intervensi :
1.      Jelaskan semua prosedur tindakan.
2.      Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.
3.      Dorong keluarga dan teman utnuk menganggap klien seperti sebelumnya.
4.      Beritahu klien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan/membatasi serangan akan datang dan meningkatkan stabilitas jantung.
5.      Kolaborasi.
*      Kurang pengetahuan tentang sifat dasar penyakit berhubungan dengan deficit knowlege.
Intervensi  :
1.      Tekankan perlunya mencegah serangan angina.
2.      Dorong untuk menghindari faktor/situasi yang sebagai pencetus episode angina.
3.      Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, perubahan diet dan olah raga.
4.      Tunjukkan/ dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama aktifitas, hindari tegangan.
5.      Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina.
6.      Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.
*      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
Intervensi :
1.      Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman.
2.      Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam pemenuhan aktifitas perawatan diri sesuai indikasi.
3.      Catat warna kulit dan kualittas nadi.
4.      Pantau EKG dengan sering.
v  Intervensi Keperawatan Pencegahan Nyeri. Pasien harus memahami gejala kompleks dan harus menghindrari aktivitas yang diketahui akan menyebabkan nyeri angina seperti latihan mendadak, pajanan terhadap dingin, dan kegembiraan emosional.belajar untuk merubah, menyesuaikan dan beradaptasi terhadap stres tersebut amatlah penting. Bagi pasien yang serangannya terutama terjadi pada pagi hari, perlu dilakukan pembuatan jadwal kegiatan sehari-hari. Idealnya kegiatan tidak dilakukan terburu-buru in dilakukan sepanjang hari, sehingga semua tugas dan perjanjian yang direncanakan dapat dijalankan tanpa rasa tertekan dan terburu-buru.
v  Mengurangi Kecemasan. Pasien-pasien ini biasanya mempunyai rasa takut akan kematian. Untuk pasien rawat inap, asuhan keperawatan direncanakan sedemikian rupa sehingga waktu dimana ia jauh dari tempat tidur diusahakan seminimal mungkin, karena perasaan takut akan meninggal tersebut sering dapat dikurangi dengan adanya kehadiran fisik orang lain.pasien rawat jalan harus diberikan informasi mengenai penyakitnya dan penjelasan mengenai pentingnya mematuhi petunjuk yang telah diberikan.
v  Penyuluhan Pasien dan Pendekatan Asuhan di Rumah. Program penyuluhan untuk pasien dengan angina dirancang untuk menjelaskan sifat dasar penyakit dan menunjukan data yang diperlukan untuk mengatur kembali kebiasaan hidup untuk mencapai tujuan sebagai berikut: mengurangi frekuensi dan beratnya serangan angina, memperlambat perkembangan penyakit yang mendasarinya, bila mungkin memberikan perlindungan dari komplikasi lain.
4.      EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
1.      Bebas dari nyeri.
2.      Menunjukkan penurunan kecemasan
a.  Memahami penyakit dan tujuan perawatannya.
b.  Mematuhi semua aturan medis.
c.  Mengetahui kapan harus meminta bantuan medis bila nyeri menetap atau sifatnya berubah.
d. Menghindari tinggal sendiri saat terjadinya episode nyeri.
3.      Memahami cara mencegah komplikasi dan menunjukkan tanda-tanda bebas dari komplikasi
a.       Menjelaskan proses terjadinya angina
b.      Menjelaskan alasan tindakan pencegahan komplikasi
c.       Bebas dari tanda dan gejala infark miokardium akut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar